About Me

Pengertian Sarana Pendidikan : Jenis dan Kegiatan Pengelolaannya


1. Pengertian Sarana Pendidikan

Menurut B. Suryosubroto (2004: 114) sarana pendidikan adalah semua fasilitas yang diperlukan dalam proses pembelajaran baik yang bergerak maupun yang tidak bergerak agar pencapaian tujuan pendidikan berjalan lancar, teratur, efektif dan efisien.

Sarana pendidikan adalah semua perangkat peralatan, bahan, dan perabot yang secara langsung digunakan dalam proses pendidikan di sekolah. (Ibrahim Bafadal, 2003: 2).

Menurut rumusan Tim Penyusun Pedoman Pembakuan Media Pendidikan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan (Suharsimi Arikunto dan Lia Yuliana, 2008: 274), maka yang dimaksud dengan dengan sarana pendidikan adalah semua fasilitas yang diperlukan dalam proses belajar mengajar baik yang bergerak maupun tidak bergerak agar pencapaian tujuan pendidikan dapat berjalan dengan lancar, teratur, efektif dan efisien”

Berdasarkan uraian diatas maka dapat disimpulkan yang dimaksud sarana pendidikan adalah semua fasilitas yang diperlukan secara langsung dalam proses pendidikan baik yang bergerak maupun yang tidak bergerak agar tujuan pendidikan dapat berjalan lancar.

2. Jenis Sarana Pendidikan

Menurut Nawawi (Ibrahim Bafadal, 2003: 2-3) mengklasifikasikan sarana pendidikan, yaitu ditinjau dari sudut : (1) habis tidaknya dipakai; (2) bergerak tidaknya pada saat digunakan; dan (3) hubungan dengan proses mengajar.

a. Ditinjau dari habis tidaknya dipakai

Apabila dilihat dari habis tidaknya dipakai, ada dua macam sarana pendidikan, yaitu sarana pendidikan yang habis dipakai dan sarana pendidikan tahan lama.

1). Sarana pendidikan yang habis pakai

Sarana pendidikan yang habis pakai adalah segala bahan atau alat yang apabila digunakan bisa habis dalam waktu yang relatif singkat, contohnya kapur tulis, bahan kimia yang digunakan dalam pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam.

2). Sarana pedidikan yang tahan lama

Sarana pendidikan yang tahan lama adalah keseluruhan bahan atau alat yang digunakan secara terus menerus dalam waktu yang  relatif lama, contohnya bangku sekolah, mesin tulis, atlas, globe, dan beberapa peralatan olahraga.

b. Ditinjau dari pendidikan bergerak tidaknya

1). Sarana pendidikan yang bergerak.

Sarana pendidikan yang bergerak adalah sarana pendidikan yang biasa digerakkan atau dipindah sesuai dengan kebutuhan pemakaiannya, contoh: Lemari arsip.

2). Sarana pendidikan yang tidak bergerak.

Sarana pendidikan yang tidak bergerak adalah semua sarana pendidikan yang tidak bisa atau relatif sangat sulit untuk dipindahkan, misalnya pipa minum (PDAM).

c. Ditinjau dari hubungannya dengan proses belajar mengajar

Dalam hubungannya dengan proses belajar mengajar, ada dua jenis sarana pendidikan.  Pertama,  sarana  pendidikan  yang  secara  langsung digunakan dalam proses belajar mengajar, contohnya: kapur tulis, atlas, dan sarana pendidikan lainnya yang digunakan guru dalam mengajar.

Kedua, sarana pendidikan yang secara tidak langsung berhubungan dengan proses belajar mengajar, seperti arsip dikantor sekolah merupakan sarana pendidikan yang tidak secara langsung digunakan oleh guru dalam proses belajar mengajar.

Sedangkan  prasarana  pendidikan  di  sekolah  bisa  diklasifikasikan menjadi dua macam. Pertama, prasarana pendidikan yang secara langsung digunakan untuk proses belajar mengajar, seperti ruang teori, ruang perpustakaan, ruang praktik ketrampilan, dan ruang laboratorium.

Kedua, prasarana sekolah yang keberadaanya tidak digunakan untuk proses belajar mengajar, tetapi secara langsung sangat menunjang terjadinya proses belajar mengajar, contohnya ruang kantor, kantin sekolah, tanah dan jalan menuju sekolah, kamar kecil, ruang usaha kesehatan sekolah, ruang guru, ruang kepala sekolah, dan tempat parkir kendaraan.

Menurut Suharsimi Arikunto dan Lia Yuliana (2008: 274) Fasilitas atau sarana dapat dibedakan menjadi 2 jenis yaitu:

1).Fasilitas Fisik, yakni segala sesuatu yang berupa benda atau fisik yang dapat dibedakan: yang mempunyai peranan untuk memudahkan dan melancarkan suatu usaha. Fasilitas fisik juga disebut fasilitas materiil.

2). Fasilitas Uang, yakni segala sesuatu yang bersifat mempermudah suatu kegiatan sebagai akibat bekerjanya nilai uang. (Suharsimi Arikunto dan Lia Yuliana, 2008: 274).

Selanjutnya menurut wahyuningrum (2000: 3) manajemen fasilitas adalah suatu proses kegiatan yang direncanakan, diorganisasikan, diarahkan, dan dikendalikan terhadap benda-benda pendidikan secara tepat guna dan berdaya guna sehingga selalu siap pakai dalam proses pembelajaran.

Secara kronologis maka kegiatan dalam manajemen fasilitas meliputi kegiatan-kegiatan: pengadaan, penyimpanan, penggunaan, pengaturan, penyaluran, inventarisasi, pemeliharaan, rehabilitasi dan penghapusan.

Menurut Ibrahim Bafadal (2003: 2) manajemen perlengkapan sekolah dapat didefinisikan sebagai proses kerja sama pendayagunaan semua perlengkapan pendidikan secara efektif dan efisien.

Berdasarkan pengertian diatas maka dapat disimpulkan bahwa  manajemen/pengelolaan sarana pendidikan adalah proses pengelolaan segala fasilitas pendidikan secara tepat sehingga dapat mencapai tujuan efektif dan efisien. Kegiatan pengelolaan sarana pendidikan mencakup: perencanaan, pengadaan, inventarisasi, penyimpanan, pemeliharaan dan penghapusan.

3. Kegiatan Pengelolaan Sarana Pendidikan

Uraian kegiatan pengelolaan sarana pendidikan dapat diuraikan sebagai berikut:

a. Perencanaan

Dalam kegiatan pengelolaan yang baik tentu diawali dengan suatu perencanaan yang matang dan baik demi menghindari terjadinya kesalahan dan kegagalan yang tidak diinginkan. Perencanaan berfungsi untuk menentukan tujuan atau kerangka tindakan yang diperlukan untuk mencapai tujuan tertentu.

Ibrahim Bafadal (2003: 26) menjelaskan perencanaan perlengkapan pendidikan dapat didefinisikan sebagai suatu proses pemikiran dan penetapan program pengadaan fasilitas sekolah, baik yang berbentuk sarana maupun prasarana pendidikan di masa yang akan datang untuk mencapai tujuan tertentu.

Proses perencanaan pengadaan perlengkapan di sekolah tidak mudah, karena harus dilakukan secara sistematis, rinci dan teliti berdasarkan informasi yang realistis tentang kondisi sekolah tersebut.

Perencanaan yang baik dan teliti akan berdasarkan analisis kebutuhan dan penentuan skala prioritas bagi kegiatan-kegiatan untuk mendapatkan urutan pertama, kedua, ketiga dan seterusnnya untuk dilaksanakan yang disesuaikan dengan tersedianya dana dan tingkat kepentingannya. Hendaknya perencanaan disesuaikan dengan analisis kebutuhan.

Menurut Suharsimi Arikunto dan Lia Yuliana ( 2008: 275-276) untuk mengadakan perencanaan kebutuhan alat pelajaran dilalui melalui tahap-tahap antara lain: (1) mengadakan analisis terhadap materi pelajaran mana yang membutuhkan alat atau media dalam penyampaiannya, (2) mengadakan seleksi skala prioritas terhadap alat-alat yang mendesak pengadaanya apabila pengadaan kebutuhan melampaui kemampuan daya beli atau daya pembuatan, (3) mengadakan inventarisasi terhadap alat atau media yang telah ada, (4) mengadakan seleksi terhadap alat/media yang masih dapat dimanfaatkan, baik dengan reparasi atau modifikasi maupun tidak, (5) mencari dana (bila belum ada), (6) menunjuk seseorang (bagian pembekalan) untuk melaksanakan pengadaan alat.

Untuk itu sebelum mengadakan sarana pendidikan lebih dahulu harus melalui prosedur penelitian yaitu melihat kembali kekayaan yang telah ada. Dengan demikian baru bisa menentukan sarana apa yang diperlukan berdasarkan kepentingan pendidikan di sekolah itu.

b. Pengadaan

Pengadaan adalah menghadirkan sarana pendidikan dalam menunjang pelaksanaan proses pembelajaran. Pengadaan sarana pendidikan seyogyanya sesuai kiteria pemilihan. Suharsimi Arikunto dan Lia Yuliana (2008: 276) memberikan empat kriteria dalam pemilihan sarana, yaitu: (1) alat itu harus berguna atau akan digunakan dalam waktu dekat (mendesak), (2) mudah digunakan, (3) bentuknya bagus dan menarik, dan (4) aman dan tidak menimbulkan bahaya jika digunakan.

Menurut B. Suryosubroto (2004: 116) pengadaan sarana pendidikan ada beberapa kemungkinan yang bisa ditempuh:

1.Pembelian dengan biaya pemerintah.

2.Pembelian dengan biaya SPP.

3.Bantuan dari BP3.

4.Bantuan dari masyarakat lainnya.

Sarana pendidikan dapat diadakan sesuai dengan ketentuan yang berlaku, yaitu untuk jumlah besar tertentu melalui lelang/tender dengan rekanan.

c. Inventarisasi

Inventarisasi berasal dari kata inventaris yang berarti daftar barang-barang, bahan, dan sebagainya. Jadi inventarisasi merupakan kegiatan untuk mencatat dan menyusun daftar barang-barang/bahan secara teratur menurut ketentuan yang berlaku (Ari H Gunawan, 1996: 141).

Penginventarisasian perlengkapan pendidikan berfungsi untuk menciptakan tertib administrasi barang, penghematan keuangan dan mempermudah dalam pemeliharaan dan pengawasan barang. Lebih lanjut inventarisasi mampu menjadikan data dan informasi untuk perencanaan.

Inventarisasi ini dilakukan dalam rangka usaha penyempurnaan dan pengawasan yang efektif terhadap barang-barang milik Negara (atau swasta). Inventarisasi juga memberikan masukan yang sangat berguna bagi efektivitas pengelolaan sarana.

Menurut Ari H Gunawan kegiatan dalam inventarisasi antara lain: (1) klasifikasi dan kode barang inventaris, kegiatan ini dilakukan untuk kelancaran tugas agar terdapat cara yang cukup mudah dan efisien untuk mencatat dan sekaligus untuk mencari atau menemukan kembali barang tertentu, baik secara fisik maupun melalui daftar catatan atau ingatan orang. Untuk keperluan tersebut maka dibuatlah lambang/sandi/kode sebagai pengganti nama untuk setiap golongan/kelompok/ jenis barang. Sandi atau kode barang menggunakan bentuk angka bilangan (numerik) yang pada umumnya terdiri dari tujuh angka yang tersusun menjadi dua kelompok bilangan, yaitu tiga angka di depan dan empat angka di belakang. Kedua kelompok tersebut dipisahkan dengan sebuah tanda titik. Angka pertama dari susunan tiga angka di depan, menyatakan jenis formulir atau kode golongan barang.

Dua angka berikutnya menunjukan sandi/kode pokok untuk kelompok barang. Empat angka belakang titik menunjukan kelompok barang serta nomor urut barang. (2) pelaksanaan inventarisasi, kegiatan wajib yang dilakukan dalam pelaksanaan inventarisasi adalah: a) mencatat semua barang inventaris di dalam “buku induk inventaris” dan buku pembantu “buku golongan inventaris”, b) memberikan koding pada barang-barang yang diinventarisasikan, c) membuat laporan triwulan tentang mutasi barang, d) membuat daftar isian/format inventaris, dan e) membuat daftar rekapitulasi tahunan.

d. Penyimpanan

Setelah pengadaan barang terealisasikan, maka kegiatan selanjutnya adalah menampung hasil pengadaan barang tersebut demi keamanannya, baik yang belum maupun yang akan didistribusikan, disebut penyimpanan (Ari H. Gunawan, 1996: 139).

Menyimpan adalah meletakkan atau menaruh di tempat yang aman (Wahyuningrum, 2000: 12). Dalam penyimpanan sarana dapat ditempatkan pada ruang khusus atau gudang dapat pula hanya disimpan dalam almari. Untuk sekolah yang besar dan memiliki banyak alat, pemisahan alat didasarkan atas penempatan dalam almari. Tetapi jika alat-alatnya hanya sedikit, pemisahan dilakukan atas rak-rak saja.

Sedangkan untuk penyimpanan barang dalam gudang, perlu diperhatikan beberapa faktor pendukungnya seperti lokasi, konstruksi, macam/bentuk/sifat dan ketentuan tata letak batang di dalamnya sesuai jenis dan sifat barangnya.

e. Pemeliharaan

Idealnya semua sarana pendidikan di sekolah selalu dalam kondisi siap pakai jika setiap saat akan digunakan. Pemeliharaan sarana pendidikan adalah kegiatan untuk melakukan pengurusan dan pengaturan agar semua sarana tersebut selalu dalam kondisi baik dan siap dipakai secara berdaya guna dan berhasil guna. Dengan pemeliharaan secara teratur, sarana pendidikan dapat digunakan sebagaimana mestinya sesuai dengan fungsinya secara optimal.

Menurut Ibrahim Bafadal (2003: 49) ada beberapa macam pemeliharaan perlengkapan di sekolah, ditinjau dari sifatnya dan waktu perbaikannya. Ditinjau dari sifatnya ada empat macam pemeliharaan perlengkapan pendidikan, yaitu: (1) pengecekan yang bertujuan untuk mengetahui baik buruknya perlengkapan, (2) pencegahan yaitu agar selalu dalam kondisi/keadaan baik, (3) perbaikan ringan, dan (4) perbaikan berat. Ditinjau dari waktu perbaikannya ada dua macam pemeliharaan perlengkapan, yaitu: (1) pemeliharaan sehari-hari dan (2) pemeliharaan berkala.

Pemeliharaan atau perawatan sarana pendidikan perlu dilakukan oleh Kepala Sekolah atau pemakai sarana tersebut (Depdikbud, 1996: 12). Pemeliharaan atau perawatan sarana pendidikan meliputi dua macam hal yaitu: (1) pemeliharaan pencegahan dari gangguan segala sesuatu yang mengakibatkan kerusakan peralatan yang bersangkutan, dan (2) pemeliharaan ringan. Menurut jenisnya, pemeliharaan dapat dibedakan antara pemeliharaan terencana dan tidak terencana.

Pemeliharaan terencana adalah jenis pemeliharaan yang diprogramkan, diorganisir, dijadwal, dianggarkan, dan dilaksanakan sesuai dengan rencana dan diadakan evaluasi dan monitoring.

Pemeliharaan terencana dibedakan menjadi dua yaitu, pemeliharaan terencana yang bersifat pencegahan atau perawatan preventif dan pemeliharaan terencana yang bersifat korektif. Perawatan preventif merupakan perawatan yang bersifat pencegahan dari gangguan kemacetan atau kerusakan sarana pendidikan.

Perawatan korektif merupakan perawatan yang bersifat pengembalian, yaitu mengembalikan peralatan dalam kondisi standar sehingga dapat berfungsi normal sebagimana mestinya. Adapun yang dimaksud dengan pemeliharaan yang bersifat perbaikan terhadap kerusakan yang belum diperkirakan sebelumnya, umumnya tingkat kerusakan yang terjadi pada tingkat kerusakan berat yang sering disebut dengan pemeliharaan atau perawatan darurat.

Dari berbagai pendapat tersebut, maka secara garis besar pemeliharaan sarana pendidikan perlu dilakukan dengan: (1) melakukan pencegahan kerusakan, (2) membersihkan sarana dari kotoran, (3) memeriksa atau mengecek kondisi sarana secara rutin, (4) mengganti sarana yang rusak dan (5) melakukan perbaikan jika ada yang rusak.

f. Penghapusan Barang

Apabila pemeliharaan barang dirasa sudah tidak efisien dan efektif lagi maka perlu pertimbangan barang-barang tersebut dihapus atau tidak digunakan lagi. Sebagai konsekuensi penghapusan barang tersebut, adalah dihapusnya pula daftar barang itu dari buku inventaris. Proses kegiatan yang bertujuan untuk mengeluarkan atau menghilangkan barang-barang milik negara dari daftar inventaris negara berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku, disebut penghapusan (Ari H Gunawan, 1996: 149).

Post a Comment

0 Comments