About Me

Pengertian Kecemasan : Faktor yang Mempengaruhi dan Gejalanya


A. Pengertian Kecemasan

Sahabat Inspiratif! Apabila kita berbicara tentang kecemasan, maka kita akan berbicara tentang gejala perasaan yang ada dalam diri kita dan semua orang. Semua orang  mempunyai potensi untuk menghadapi dan mengalami kecemasan dimanapun berada. Tingkatannya yang mungkin berbeda antara satu orang dengan yang lainnya. Kecemasan adalah keadaan dimana seseorang mengalami perasaan gelisah atau cemas dan aktivitas sistem saraf outonom dalam berespon terhadap ancaman yang tidak jelas dan tidak spesifik (Carpenito, 2000).

Kecemasan adalah respon terhadap suatu ancaman yang sumbernya tidak diketahui, internal, samar-samar, atau konfliktual (Ibrahim, 2007). Kecemasan adalah suatu sinyal yang menyadarkan; ia memperingatkan adanya bahaya yang mengancam dan memungkinkan seseorang mengambil tindakan untuk mengatasi ancaman (Kaplan, 1997).

Sahabat Inspiratif! Sedangkan Suliswati, (2005) mengatakan bahwa kecemasan sebagai respon emosi tanpa objek yang spesifik yang secara subjektif dialami dan dikomunikasikan secara interpersonal. Kecemasan adalah kebingungan,  kekhawatiran pada sesuatu yang akan terjadi dengan penyebab yang tidak jelas dan dihubungkan dengan perasaan tidak menentu dan tidak berdaya.

Berdasarkan pengertian diatas dapat disimpulkan pengertian dari kecemasan adalah keadaan dimana seseorang mengalami gelisah, kekhawatiran atau cemas sistem saraf outonom dalam berespon  terhadap ancaman yang tidak jelas dan tidak spesifik dan dihubungkan dengan perasaan tidak menentu dan tidak berdaya.

Sahabat Inspiratif! Menurut Stuart, (2006) ada beberapa teori yang menjelaskan mengenai kecemasan. Teori tersebut antara lain:

1. Teori psikoanalitik, kecemasan adalah konflik emosional yang terjadi antara dua elemen kepribadian yaitu id dan superego. Id mewakili dorongan insting dan impuls primitive, sedangkan superego mencerminkan hati nurani seseorang dan dikendalikan norma budaya seseorang. Ego atau aku berfungsi menengahi tuntutan dari dua elemen yang bertentangan tersebut, dan fungsi kecemasan adalah mengingatkan ego bahwa ada bahaya.

2. Teori interpersonal, kecemasan timbul dari perasaan takut terhadap ketidaksetujuan dan penolakan interpersonal. Kecemasan juga berhubungan dengan perkembangan trauma, seperti perpisahan dan  kehilangan, yang menimbulkan kerentanan tertentu. Individu dengan harga diri rendah terutama rentan mengalami kecemasan yang berat.

3. Teori prilaku, kecemasan merupakan hasil dari frustasi. yaitu segala sesuatu yang mengganggu kemampuan individu untuk mencapai tujuan yang diinginkan . Ahli teori prilaku lain menganggap kecemasan sebagai suatu dorongan yang dipelajari berdasarkan keinginan dari dalam diri untuk menghindari kepedihan.

4. Teori keluarga menunjukkan bahwa ganguan kecemasan biasanya terjadi dalam keluarga. Gangguan kecemasan juga tumpang tindih antara gangguan kecemasan dan depresi.

5. Teori biologis menunjukkan bahwa otak mengandung reseptor khusus untuk benzodiazepin, obat-obatan yang meningkatkan neuroregulator inhibisi asam gama-aminobitirat (GABA), yang berperan penting dalam biologis yang berhubungan dengan kecemasan.

B. Faktor yang mempengaruhi kecemasan.

Sahabat Inspiratif! Menurut Suliswati, 2005 ada 2 faktor yang mempengaruhi kecemasan yaitu:

a. Faktor predisposisi yang meliputi:

1. Peristiwa traumatik yang dapat memicu terjadinya kecemasan berkaitan dengan krisis yang dialami individu baik krisis perkembangan atau situasional.

2. Konflik emosional yang dialami individu dan tidak terselesaikan dengan baik. Konflik antara id dan superego atau antara keinginan dan kenyataan dapat menimbulkan kecemasan pada individu.

3. Konsep diri terganggu akan menimbulkan ketidakmampuan individu berpikir secara realitas sehingga akan menimbulkan kecemasan.

4. Frustasi akan menimbulkan ketidakberdayaan untuk mengambil keputusan yang berdampak terhadap ego.

5. Gangguan fisik akan menimbulkan kecemasan karena merupakan ancaman integritas fisik yang dapat mempengaruhi konsep diri individu.

6. Pola mekanisme koping keluarga atau pola keluarga menangani kecemasan akan mempengaruhi individu dalam berespons terhadap konflik yang dialami karena pola mekanisme koping individu banyak dipelajari dalam keluarga.

7. Riwayat gangguan kecemasan dalam keluarga akan mempengaruhi respon individu dalam berespon terhadap konflik dan mengatasi kecemasannya.

8. Medikasi yang dapat memicu terjadinya kecemasan adalah pengobatan yang mengandung benzodiazepin, karena benzodiazepine dapat menekan neurotransmiter gamma amino  butyric acid (GABA) yang mengontrol aktivitas neuron di otak yang bertanggung jawab menghasilkan kecemasan.

b. Faktor presipitasi meliputi:

1) Ancaman terhadap integritas fisik, ketegangan yang mengancam integritas fisik meliputi:

a. Sumber internal, meliputi kegagalan mekanisme fisiologi system imun, regulasi suhu tubuh, perubahan biologis normal.

b. Sumber eksternal, meliputi paparan terhadap infeksi virus dan bakteri, polutan lingkungan, kecelakaan, kekurangan nutrisi, tidak adekuatnya tempat tinggal.

2) Ancaman terhadap harga diri meliputi sumber internal dan eksternal.

a. Sumber internal, meliputi kesulitan dalam berhubungan interpersonal di rumah dan di tempat kerja, penyesuaian terhadap peran baru. Berbagai ancaman terhadap integritas fisik juga dapat mengancam harga diri.

b. Sumber eksternal, meliputi kehilangan orang yang dicintai, perceraian, perubahan status pekerjaan, tekanan kelompok, social budaya.

C. Gejala-gejala kecemasan. 

 Sahabat InspiratifPerasaan kecemasan ditandai oleh rasa ketakutan yang difus, tidak menyenangkan dan samar-samar, seringkaali disertai oleh gejala otonomik seperti, nyeri kepala, berkeringat, palpitasi, kekakuan pada dada, dan gangguan lambung ringan. Seseorang yang cemas mungkin saja merasa gelisah, seperti yang dinyatakan oleh ketidakmampuan untuk duduk atau berdiri lama. Kumpulan gejala tertentu yang ditemukan selama kecemasan cenderung bervariasi dari orang ke orang (Kaplan, 1997)

Sahabat Inspiratif! Menurut Stuart (2006), respon/gejala kecemasan ditandai pada empat aspek, yaitu:

a. Respon fisiologi terhadap kecemasan:

1.Kardiovaskuler: palpitasi, jantung berdebar, tekanan darah meninggi, rasa mau pingsan, pingsan, tekanan darah menurun, denyut nadi menurun.

2.Pernapasan: napas cepat, napas pendek, tekanan pada dada, napas dangkal, pembengkakan pada tenggorok, sensasi tercekik, terengahengah.

3.Neuromuskular: Reflek meningkat, reaksi kejutan, mata berkedipkedip, insomnia, tremor, rigiditas, gelisah, wajah tegang, kelemahan umum, kaki goyah, gerakan yang jangkal.

4.Gastrointestinal: kehilangan napsu makan, menolak makanan, rasa tidak nyaman pada abdomen, mual, rasa terbakar pada jantung, diare.

5.Traktus Urinarius: tidak dapat menahan kencing sering berkemih.

6.Kulit: wajah kemerahan, berkeringat setempat, gatal, rasa panas dan dingin pada kulit, wajah pucat, berkeringat seluruh tubuh.

b. Respon prilaku: Gelisah, ketegangan, tremor, gugup, bicara cepat, kurang koordinasi, cenderung mendapat cedera, menarik diri dari hubungan interpersonal, menghalangi, melarikan diri dari masalah, menghindari, hiperventilasi.

c. Kognitif: perhatian terganggu, konsentrasi buruk, pelupa, salah dalam memberikan penilaian, preokupasi, hambatan berfikir, bidang persepsi menurun, kreativitas menurun, produktivitas menurun, bingung, sangat waspada, kesadaran diri meningkat, kehilangan objektivitas, takut kehilangan kontrol, takut pada gambaran visual, takut cedera atau kematian.

d. Afektif: Mudah terganggu, tidak sabar, gelisah, tegang, nervus, ketakutan, terror, gugup, gelisah.

D. Tingkat kecemasan

Sahabat Inspiratif! Menurut peplau ada empat tingkat kecemasan yang dialami individu yaitu ringan, sedang, berat, dan panik.

a. Rasa cemas ringan: dihubungkan dengan ketegangan yang dialami sehari-hari. Individu masih waspada serta lapang persepsinya meluas, menajamkan indra. Dapat memotivasi individu untuk belajar dan mampu memecahkan masalah secara efektif dan menghasilkan pertumbuhan dan kreatifitas.

b. Rasa cemas sedang: individu terfokus hanya pada pikiran yang menjadi perhatiannya, terjadi penyempitan lapang persepsi, masih dapat melakukan sesuatu dengan arahan orang lain.

c. Rasa cemas berat: lapang persepsi individu sangat sempit. Pusat perhatiannya pada detil yang kecil (spesifik) dan tidak dapat berpikir tentang hal-hal lain. Seluruh perilaku dimaksudkan untuk mengurangi kecemasan dan perlu banyak perintah/arahan untuk terfokus pada area lain.

d. Panik: individu kehilangan kendali diri dan detail perhatian hilang. Karena hilangnya control, maka tidak mampu melakukan apapun meskipun dengan perintah. Terjadi peningkatan aktivitas motorik, berkurangnya kemampuan berhubungan dengan orang lain, penyimpangan persepsi dan hilangnya pikiran rasional, tidak mampu berfungsi secara efektif. Biasanya disertai dengan disorganisasi kepribadian (Suliswati, 2005).

E. Cara mengukur kecemasan

Sahabat Inspiratif! Untuk mengetahui sejauh mana derajat kecemasan seseorang apakah ringan, sedang, berat dan berat sekali, menggunakan alat ukur (instrument) yang dikenal dengan nama Hamilton Rating Scale for Anxiety (HRS-A), pada penelitian ini berbentuk kuesioner. HRSA merupakan skala kecemasan yang sederhana, praktis, mudah, standar, dan diterima secara internasional.

Sahabat Inspiratif! Pada prinsipnya penilaian dengan HRS-A terdiri dari 14  kelompok gejala yang masing-masing kelompok dirinci dengan gejalagejala yang lebih spesifik. Masing-masing kelompok gejala diberi penilaian antara 0-4, yang artinya adalah nilai 0: tidak ada gejala, 1: gejala ringan, 2: gejala sedang, 3: gejala berat, 4: gejala berat sekali. Masing-masing nilai angka (score) dari 14 kelompok tersebut dijumlahkan dan dari hasil penjumlahan tersebut dapat diketahui derajat kecemasan seseorang yaitu kurang dari 14 tidak ada kecemasan, skor 14-20 kecemasan ringan, skor 21-27 kecemasan sedang, skor 28-41 kecemasan berat, dan skor 42-56 kecemasan berat sekali (Hidayat, 2008).

Referensi

Alsa, A. 2006. Hubungan Antara Dukungan Sosial Orang Tua Dengan Kepercayaan Diri Remaja Penyandang Cacat Fisik. Semarang. Jurnal Psikologi. No.1. 47-48.

Adi, A.W. 2005. Hubungan Antara Keteraturan Menjalankan Sholat dengan Kecemasan pada Para Siswa kelas III SMA Muhammadiyah Magelang, Jurnal Penelitian Psikologi Fakultas Psikologi UGM.

Atamimi, N. 2009. Post Power Syndrome. Yogyakarta: Pusat Penelitian Kependudukan Universitas Gadjah Mada

Atkinson, R. L dan Atkonson, Richard, R. 2001. Pengantar Psikologi I. Edisi Kedua. Jakarta. Batam: Interaksara.

Azwar, S. 2007. Penyusunan Skala Psikologi. Yogyakarta: Andi Offset.

Bandura, A. 1997. Self Efficacy. The Exercise of a Control. New York: W. H Freeman and Company

Bararah, V.F. 2011. Penyebab Tubuh Bisa Gemetar. (Online). Tersedia di: http://carahidup.um.ac.id/2013/02/penyebab-tubuh-bisa-gemetar

Daradjat, Z. 2000. Kesehatan Mental. Edisi Revisi. Jakarta: CV Aji Masagung. Dinas Kesehatan Propinsi Jawa Tengah. 2005.

Petunjuk Pelaksanaan Ujian OSCA pada DIII Kebidanan Politeknik Kesehatan. Semarang: Depkes

Durand, Mark dan Barlow, David. 2006. Psikologi Abnormal. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Ekowarni, E dan Ganari, Hinggar. 2009. Terapi Kognitif Perilaku Dan Kecamasan Menghadapi Prosedur Medis Pada Anak Penderita Leukimia. Jurnal PsikologiUniversitas Gadjahmada Yogyakarta.Vol. 1 No.1 hal. 77

Fahmi, M. 2007. Kesehatan Jiwa dan Keluarga, Sekolah dan Masyarakat Jakarta: Penerbit Bulan Bintang

Firman dan Khairani. 2000. Dukungan sosial dan penerimaan diri pedagang wanita pasar Pedesaan Minangkabau dalam memberdayakan sumber ekonomi keluarga. Laporan Penelitian Kajian Wanita. Sumatra Barat: Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Padang

Post a Comment

0 Comments