Makna Tangan Kanan Memberi Tangan Kiri Tidak Harus Mengetahui

Sahabat Inspiratif! Sering kita mendengar ungkapan yang berbunyi “ Tangan kanan memberi tangan kiri tidak harus mengetahui”. Ungkapan ini sangat populer dan sangat dianjurkan pada saat kita ingin berbuat baik, beramal baik atau bersedekah.

Makna dari ungkapan tersebut adalah apabila kita ingin bersedekah maka sebaiknya tidak perlu menampakkan sedekah kita tersebut di depan orang lain atau sengaja memamerkan amalan sedekah kita kepada orang lain. Karena selain akan mengurangi amalan baik kita tersebut juga akan menjadikan diri kita menjadi orang yang mempunyai sifat riya’ (sombong).

Sahabat Inspiratif! Sifat riya’ harus kita jauhi karena walaupun terkadang bermanfaat untuk mnggugah orang lain dalam beramal. Terkadang memang orang lain akan terpancing untuk bersedekah lebih daripada jumlah sedekah kita. Hal ini sama dengan kejadian yang diceritakan oleh Al-Ghazali dalam kitab Al-Ihya. Suatu saat di Baghdad banyak umat Islam yang bangun malam dan melaksanakan shalat dengan suara jahr (nyaring), hingga bacaan mereka terdengar di jalanan.

Mereka yang melintasi jalan di waktu sebelum fajar pasti akan mendengar bacaan tersebut, hingga mereka terdorong untuk melakukan hal yang sama (shalat malam). Namun, setelah itu ada seseorang yang menulis kitab yang menjelaskan riya’ al-khafi, hingga bacaan jahr dalam shalat malam berhenti karena mereka takut riya’. Padahal, bacaan itu menginspirasi orang lain untuk melaksanakan shalat malam. Tetapi mereka lebih takut dengan sifat Riya’ yang akan menghampiri mereka.

Sahabat Inspiratif! Terkadang, suatu amalan kebaikan, baik itu dilakukan dengan ikhlas ataupun riya’, jika dilakukan terang-terangan bisa memberi dampak positif bagi orang lain, yakni memotivasi untuk berbuat kebaikan dan menampakkan syiar Islam. Hal ini memang tidak bisa dipungkiri.

Walaupun bermanfaat bagi orang lain, namun hal itu tidaklah sepatutnya dijadikan legitimasi untuk melakukan amalan dengan riya’atau bermudah-mudah menampakkan amalan, tanpa mempertimbangkan dampak positif-negatifnya, baik bagi pelakunya sendiri maupun orang lain. Tentu, ketika menampakkan amalan dirasa memiliki dampak positif lebih besar, maka pelakunya pun dituntut untuk ikhlas saat melakukannya.

Sahabat Inspiratif! Jika dinilai ada manfaat dalam menampakkan amalan guna memberi contoh atau memotivasi orang lain, maka hal ini dibolehkan, dengan syarat pelakunya sendiri terhindar dari Riya’. Semisal seseorang melakukan shalat malam dengan bacaan jahr, agar tetangganya bangun dan melakukan hal serupa, atau seseorang yang terang-terangan pergi terlebih dahulu untuk berjihad agar yang lain termotivasi. Mereka yang tidak aman dari perbuatan Riya’, jika melakukan hal ini, bagaikan seseorang yang memutuskan untuk menolong orang yang tenggelam, namun ia sendiri tidak bisa berenang, akhirnya ia juga celaka.

Sahabat Inspiratif! Ternyata dalam berbuat baik pun kita tetap harus berhati-hati agar terhindar dari sifat sombong yang melekat pada jiwa manusia. Berbuat baik tidak harus menunggu orang mengetahui. Berbuat baik harus disertai dengan keikhlasan dan ketulusan. Berbuat amal baik akan tetap dicatat oleh Allah SWT tanpa harus kita nampakkan didepan orang lain.

Semoga kita semua dapat menjadi orang-orang yang baik dan suka bersedekah dan beramal dengan tetap rendah diri dan terhindar dari sifat Riya’.

Semoga menjadi inspirasi buat kita semua.

Post a Comment

0 Comments